Katarsis

Dalam tiga bulan ini, ada beberapa hal yang kemudian saya lakukan lagi bukan karena suka tetapi karena butuh. Menurut saya, setiap orang punya medium untuk menyembuhkan diri dari hal-hal yang traumatis.

Hal yang kemudian mengingatkan saya bahwa sejatinya manusia itu punya potensi terhadap dua kemungkinan: menjadi kuat atau ngga sama sekali.

Mungkin terlalu hitam dan putih perbandingannya ya, karena kenyataannya kita sering dihadapkan pada situasi dimana kita merasa itu titik akhir yang ngga mampu dilewati. Cuma, setelah apa yang saya alami, rasanya hidup itu ya memang begitu.

Tipe-tipe kebahagiaan yang selama ini saya dengar dan terima sebagai suatu hal yang normal:
1) Mengejar cita-cita dan mimpi dengan standar ekspektasi sosial kita,
2) Menikah dengan orang yang kita percaya dan membangun keluarga yang bahagia, serta hal-hal lain terkait kebahagiaan personal.

Saya ngga tahu sekarang harus bagaimana menanggapi kebahagiaan seperti itu, apakah saya takut berharap?

Expectation sometimes kills, but awareness always keeps us alive.

Membangun kesadaran diri ternyata jauh lebih mudah ketimbang membangun ekspektasi, khususnya bila ekspektasi itu berkenaan dengan individu lain.

Se-engganya, ngga ada siapapun ataupun apapun yang kita percaya mampu menyakiti dan mengkhianati kita saat kita lebih mengedepankan kesadaran diri ketimbang ekspektasi.

Sudah berapa banyak sih kita mendengar cerita seseorang yang terpuruk karena mimpinya ngga tercapai? Karena ditinggalkan orang yang paling dipercaya?

Mama saya pernah cerita tentang kondisi teman kuliahnya dulu yang hingga kini kabarnya masih trauma karena ditinggalkan pasangannya setelah bertahun-tahun bersama dengan ekspektasi untuk membangun keluarga.

Ditinggalkan oleh lelaki demi perempuan lain saat mengejar karir di Jakarta dari Banjarmasin, kampung halaman mereka (Mama saya dari Banjarmasin juga btw).

Si lelaki yang berhasil membuat teman Mama saya sangat terpuruk, ya ditinggal gitu lho, tanpa ada diskusi yang fair…tahun 80’an macam begitu mana ada kenyamanan berupa handphone, telfon pun masih mahal.

Tapi, ada teknologi pun, kisah-kisah macam begini masih ada aja kok di jaman sekarang. Ironis. On the side note, Mama dan teman-temannya yang lain sempat khawatir karena untuk beberapa saat teman Mama ini sempat seperti orang linglung.

Tentunya, hidup memang harus berjalan kan. Teman Mama itu kemudian mengabdikan diri sebagai pengajar di sana sampai sekarang, kata Mama. Dan, setahu Mama masih belum berkeluarga hingga kini.

Saya selalu mengulang cerita teman Mama ini di kepala saya. Andai saya punya mesin waktu, saya ingin sekali menemui teman Mama saya dan bilang bahwa hanya pilarnya saja yang hancur, bukan fondasinya.

Mama bilang, temannya ini sangat pintar, sering mengajari teman-teman kuliahnya termasuk Mama saya, dan berpotensi punya karir kehakiman yang melesat kalau memang temannya ini berniat mengambil profesi di kehakiman.

Ya, ngga ada yang salah dengan pilihan hidupnya sekarang. Mengajar pun hal yang sangat teramat baik, karena mengajar itu ngga ada bedanya dengan bersedekah kan. Amal jariyah. Ilmu bagai amal yang ngga terputus-putus.

Mungkin, melakukan hal yang beliau kenal jelas seperti mengajar adalah bagian dari kesibukan yang bisa dijalani. Mungkin juga, bagian dari katarsisnya. Memang, beberapa kesibukan akan membantu seseorang melupakan lukanya.

Sayangnya, luka yang untuk sejenak bisa dilupakan rasa sakitnya itu tetap akan berbekas. Bekas yang mau ngga mau memang akan membuat kita teringat akan perihnya luka itu dan bagaimana luka itu bisa kita dapatkan.

Kemampuan otak kita memang sangat unik. Semakin kita berusaha melupakan rasa sakit dari hal-hal pribadi, semakin hal tersebut sulit dilupakan.

Makanya, bersikap seperti menangis, marah, hingga membenci untuk mengekspresikan segala bentuk kesedihan dinilai sebagai bentuk ekspresi yang umum dan terkadang dipaksakan agar semua kesedihan itu bisa cepat menguap.

Saya ingin percaya hal itu, tapi hidup menunjukkan saya jalan yang lain.

Tadi, saya katakan bahwa membangun kesadaran diri itu lebih besar maknanya ketimbang membangun ekspektasi, kan? Nyatanya, itu yang terjadi pada diri saya tiga bulan ke belakang.

Saya masih bersyukur bisa menangis, se-engganya saya sadar saya sedang ngga baik-baik saja dan berusaha menolong diri saya saat itu. Selepas masa itu, saya mendapati diri saya ngga serupa dulu. I notice that I cry less, but I feel more empty.

Saya pikir itu normal-normal saja, merasa kosong dan seperti kebas dengan segala hal yang bersifat emosional setelah melewati hal yang cukup menyakitkan. Lewat kawan saya, Wian, saya yang awam masalah begini jadi tahu kalau ngga seluruhnya kekosongan yang saya alami itu baik.

Perasaan hampa selama ini hanya saya baca dan dengar dari cerita pengalaman orang lain atau hanya sekedar fiksi dari buku. Hal yang saya takutkan, untuk pertama kalinya, bahwa rasa kosong ini ngga ada bedanya seperti batu karang di pesisir pantai yang menunggu ombak terbesar datang menyapu keringnya karang.

Ngga ada bedanya seperti saya yang dulu, menahan pelan-pelan emosi tanpa pernah berusaha untuk memahami dan mengambil langkah untuk itu.

Seminggu sebelum saya berulang tahun di bulan Oktober, saya mencoba untuk semakin menguatkan kesadaran saya bahwa terlepas dari badai yang sudah terjadi, saya berhak untuk melihat pelangi sesudahnya.

Lewat bentuk kesadaran baru yang datang dalam bentuk keyakinan bahwa ngga ada kebahagiaan maupun kesedihan yang abadi, saya berusaha memberi makna pada rasa kosong ini.

I am in my own limbo, it’s up to me whether I want to take myself to the heaven or straight to the hell of my own conscience.

Saya kembali berjalan memutar, melihat ke belakang apa saja yang saya pernah suka atau masih suka tapi terlupakan untuk sejenak.

Hal-hal yang sederhana seperti menulis di blog* atau sekedar menulis cerita di buku catatan saya, main violin dan pianika tiap ketemu partitur lagu yang saya suka, nonton anime, levelling game tiap weekend, dan foto-fotoin jamur dan bunga yang saya temukan (to the level that I dedicated a special account just for fungi…and other plants, but mostly it’s all about fungi).

Hal-hal yang sebenarnya ngga bisa dibilang hobi juga, tapi murni dulu saya lakukan karena suka (or obsessed but in a good, positive way). Beberapa hal tersebut yang kemudian saya lakukan lagi sekarang karena butuh.

Saya butuh untuk diingatkan bahwa saya perlu medium untuk perasaan saya. Saya butuh juga diingatkan kalau masih ada ruang bagi saya untuk menikmati hal-hal yang saya suka tanpa perlu intervensi keberadaan orang lain.

screenshot_20181104-215836889505606.jpg

13 years have passed… and Lilium is *still* able to tease the tear ducts. Partitur ini temen saya, Akbar, yang arrange untuk versi paduan suara

p_20181104_2157501085364163.jpg

Due to my poor sight-reading skill, I made this conversion of those proper musical notes into this ‘alphabetical’ one to ease myself with the fingering… Ini bagian sopranonya, nada A mayor, moderato, 4/4

Saya kembali menulis, mengambil violin saya, nonton anime**, membuka akun game FFBE yang sudah lama tidak saya mainkan (akhirnya selesai juga saya level-up karakter Lightning sampai bintang 6 tanpa buang-buang uang beli Minituar), membawa kamera saya ke kebun belakang untuk mencari jamur yang mungkin saja tumbuh di serasah atau di atas batang kayu yang mati, bahkan sekarang saya punya kucing***.

Hal-hal tersebut pelan-pelan membuat saya kembali menikmati hidup. Setidaknya, untuk sekarang, saya senang karena episode terakhir season 2 Castlevania datang minggu kemarin di saat saya mulai kehabisan stok anime yang bisa ditonton ulang…dan amazed juga (pakai banget) season 3 langsung disetujui untuk rilis sebanyak 10 episode. Memang, mantap betul mas Aditya Shankar dan om Warren Ellis ini.

screenshot_20181022-1514011995854374.jpg

Dapat karakter ini lewat quest, tanpa ‘habisin’ summon card aja sudah senang… apalagi sudah berhasil level-up 6* begini tanpa buang-buang uang beli Minituar… my well-spent weekend…

screenshot_20181102-1355131793920370.jpg

Senang juga isi season 3 nanti dua episode lebih banyak ketimbang season 2 yang hanya 8 episode *cries in Wallachian*

Jujur, bisa merasa senang pun kaya begini pun sudah syukur, ya sadar sih saya… this excitement was never the same like it was used to be, but still, I am grateful for a chance of feeling excited on things I know I loved back then.

Setidaknya, saya tahu bahwa kini ada medium bagi saya untuk membahagiakan diri tanpa perlu intervensi individu lain, untuk melepaskan kesedihan kalau ia datang kembali tanpa perlu melihat kesedihan itu memakan diri saya.

 

p_20181103_124506_1366761433.jpg

Ganoderma sp. Musim hujan datang lagi, jadi saya bakal sering ketemu Ganoderma (dan mungkin Calocera yang oranye, kalau beruntung) berhubung di kebun belakang ada tiga bonggol, bekas tebangan pohon rambutan.


For me, these mediums which I deem as my own catharsis are not much different like a purgatory
for my state of mind.

To my own limbo, adieu.

Fortis in arduis, semper et in aeternum.
Amen.

 


*Totalnya, dua blog (satu blog ini, satunya lagi blog itu) dan satu tumblr (yang ngga akan bisa dibuka sekarang tanpa VPN). Tumblr saya sudah ‘usang’ sih, cuma sampai sekarang masih saya pakai karena… dimana lagi saya bisa terkoneksi dengan sesama fellow Tekken, Final Fantasy, Castlevania, Hetalia (long live Himaruya-sensei) dan Detroit: Become Human (ngga tahu bakal bertahan lama apa ngga, I’m in that fandom only for that morally-ambiguous Elijah Kamski and his motive of building android tho) kalau tidak di Tumblr (dan Amino hehe).

**Dulu saya punya satu komik Master Keaton, dikasih om saya. Out of curiosity, saya penasaran… ada ngga ya anime-nya? Dan, setelah cari-cari di Youtube, saya ketemu juga anime-nya. Ngga susah sih nyarinya. Cuma, kaget aja saya…ternyata ada juga animenya. Soalnya, Master Keaton ini kurang populer di lingkup pertemanan saya waktu masih SD. Beda pamor dengan that notoriously famous Detektif Conan atau si cult-classic Detektif Kindaichi itu. Pokoknya, jaman saya masih seragam putih-merah, komik ini dibilang ngga payu (re: laku) sama teman saya. “Kurang misterinya tau,” gitu. Sejujurnya, kalau dipikir-pikir lagi, kitanya aja yang masih bocah dan topik-topik berat macam konflik antara Inggris-Irlandia Utara (ada dibahas di satu chapter yang judulnya “Triwarna Palsu”) itu kurang populer di kalangan kami yang masihlah SD…tapi seengganya saya  saat itu jadi tahu apa itu SAS dan IRA (ya jaman saya bocah, mana boleh saya main internet). Btw, ngeri juga ya konfliknya.

*** Ngga tau sih ini bisa dibilang technically pelihara atau ngga, karena saya simply cuma ‘menampung’ kucing yang sering tidur siang di teras depan rumah. Satu kucing ini beda banget dengan kucing-kucing lain yang sering mampir. Kalem banget, kalau bisa saya umpamain ya. Dari awalnya cuma diam-diam masuk rumah, sekarang ngga ada ‘segan-segannya’ tuh duduk di depan pintu kamar saya. Mungkin ini efek saya sering ‘sapa’ (dan sogok dengan Whiskas) tiap si kucing mampir di teras.

October 10th

To someone, whoever read this or stumble into this, who struggle to live and to find meaning to be alive.

To someone, no matter how long or short your days to live, who will always try to live each day gratefully.

This day, October 10th, is the celebrated as World Mental Health Day.

To write this today is not something coincidentally. There may be a greater meaning than to only be alive and celebrate the day we were born. I believe that we don’t blow the candles and eat the cake for nothing, right?

To struggle through the storm and remind ourselves that we are more than who we are as a person with our own personal battles are things that make our life beautiful.

No matter how many days left, I will live each day gratefully. And I hope you, who read this, too.

Thank You for blessing me with a beautiful life.

#Week1: A Fine, Sudden Me-Time on Sunday

I was that person who used to be so strict to myself that I somehow lost the essence of truly having fun by myself; having my own time to do anything that would make me happy. My definition of happiness has been going to different side.

I recalled that I was so busy last year and had nothing to do for myself until the news of my teacher passed away came. It just forced me to remember that I also lost my friend in previous year. What kind of life do I wish to live?

I argued a lot to myself. I questioned God. There were some days that I felt like a gloomy one. It was hard to maintain focus, thus led me to sleep deprivation. I tend to tire myself during the day, so I could sleep easily. I ate a lot only to get sleepy. Meanwhile those things were carried on my shoulder, I tried to live the day as normal as it would be. It’s as simply as walking, you couldn’t just stop walking just because you only got bruises on your feet, no? So, I thought I would be fine. However, a mere illusion of “I’m fine” is as worse as placebo effect. You never know when you’re going to break.

The moment of loss was the moment I started to talk more to myself. I tried to find peace which somehow lost for the last three years. I tried to appreciate whatever things that make me happy. A small coffee shop where my favorite seat facing towards the large window near the small garden, a certain spot in my campus library where I could dwell reading anything in peace, blooming four-o-clock every morning in my front garden, sprouting little fungi around my backyard are stuffs that I start to be thankful for their existence.

Thank you.

What I found today 🙂

Fig. 1. My new track that I accidentally tried this morning. It felt nice walking here after the morning run. Just like RPG game, I unlocked new area.

Fig. 2. As I predicted, I found some new Ganoderma (I guess) here. Rain has been pretty intense for weeks, meanwhile it’s been sunny for couple days. I couldn’t wait to see them even bigger.

Fig.3. A ‘fallen’ Ganoderma I picked. It’s so small, it looks like a shell somehow.

What song’s playing while I finish this post: Christmas Time is Here – Vocal by Vince Guaraldi Trio 🙂