Katarsis

Dalam tiga bulan ini, ada beberapa hal yang kemudian saya lakukan lagi bukan karena suka tetapi karena butuh. Menurut saya, setiap orang punya medium untuk menyembuhkan diri dari hal-hal yang traumatis. Hal yang kemudian mengingatkan saya bahwa sejatinya manusia itu punya potensi terhadap dua kemungkinan: menjadi kuat atau ngga sama sekali. Mungkin terlalu hitam dan putih perbandingannya ya, karena kenyataannya kita sering dihadapkan pada situasi dimana kita merasa itu titik akhir yang ngga mampu dilewati. Cuma, setelah apa yang saya alami, rasanya hidup itu ya memang begitu. Tipe-tipe kebahagiaan yang selama ini saya dengar dan terima sebagai suatu hal yang normal: mengejar cita-cita dan mimpi dengan standar ekspektasi sosial kita, menikah dengan orang yang kita percaya dan membangun keluarga yang bahagia, serta hal-hal lain terkait kebahagiaan personal. Saya ngga tahu sekarang harus menanggapi kebahagiaan seperti itu, apakah saya takut berharap?

Expectation sometimes kills, but awareness always keeps us alive.

Membangun kesadaran diri ternyata jauh lebih mudah ketimbang membangun ekspektasi, khususnya bila ekspektasi itu berkenaan dengan individu lain. Sengganya, ngga ada siapapun ataupun apapun yang kita percaya mampu menyakiti dan mengkhianati kita saat kita lebih mengedepankan kesadaran diri ketimbang ekspektasi. Sudah berapa banyak sih kita mendengar cerita seseorang yang terpuruk karena mimpinya ngga tercapai? Karena ditinggalkan orang yang paling dipercaya?

Mama saya pernah cerita tentang kondisi teman kuliahnya dulu yang hingga kini kabarnya masih trauma karena ditinggalkan pasangannya setelah bertahun-tahun bersama dengan ekspektasi untuk membangun keluarga. Ditinggalkan oleh lelaki demi perempuan lain saat mengejar karir di Jakarta dari Banjarmasin, kampung halaman mereka (Mama saya dari Banjarmasin juga btw). Si lelaki yang berhasil membuat teman Mama saya sangat terpuruk, ya ditinggal gitu lho, tanpa ada diskusi yang fair…tahun 80’an macam begitu mana ada kenyamanan berupa handphone, telfon pun masih mahal… tapi, ada teknologi pun, kisah-kisah macam begini masih ada aja kok di jaman sekarang. Ironis. On the side note, Mama dan teman-temannya yang lain sempat khawatir karena untuk beberapa saat teman Mama ini sempat seperti orang linglung.

Tentunya, hidup memang harus berjalan kan. Teman Mama itu kemudian mengabdikan diri sebagai pengajar di kota kecil sampai sekarang, kata Mama. Dan, sepertinya masih belum berkeluarga, tambah beliau.

Saya selalu mengulang cerita teman Mama ini di kepala saya. Andai saya punya mesin waktu, saya ingin sekali menemui teman Mama saya dan bilang bahwa hanya pilarnya saja yang hancur, bukan fondasinya (iya, saya refer ke post saya sebelumnya). Mama bilang, temannya ini sangat pintar, sering mengajari teman-teman kuliahnya termasuk Mama saya, dan berpotensi punya karir kehakiman yang melesat kalau memang temannya ini berniat mengambil profesi di kehakiman. Ya, ngga ada yang salah dengan pilihan hidupnya sekarang. Mengajar pun hal yang sangat teramat baik, karena mengajar itu ngga ada bedanya dengan bersedekah kan. Amal jariyah. Ilmu bagai amal yang ngga terputus-putus.

Mungkin, melakukan hal yang beliau kenal jelas seperti mengajar adalah bagian dari kesibukan yang bisa dijalani. Mungkin juga, bagian dari katarsisnya. Memang, beberapa kesibukan akan membantu seseorang melupakan lukanya. Cuma, luka yang untuk sejenak bisa dilupakan rasa sakitnya itu akan berbekas. Bekas yang mau ngga mau memang akan membuat kita teringat akan perihnya luka itu dan bagaimana luka itu bisa kita dapatkan.

Kemampuan otak kita memang sangat unik. Semakin kita berusaha melupakan rasa sakit dari hal-hal pribadi, semakin hal tersebut sulit dilupakan. Makanya, bersikap seperti menangis, marah, hingga membenci untuk mengekspresikan segala bentuk kesedihan dinilai sebagai bentuk ekspresi yang umum dan terkadang dipaksakan agar semua kesedihan itu bisa cepat menguap. Saya ingin percaya hal itu, but life shows me another way.

Tadi, saya katakan bahwa membangun kesadaran diri itu lebih besar maknanya ketimbang membangun ekspektasi, kan? Nyatanya, itu yang terjadi pada diri saya tiga bulan ke belakang. Saya masih bersyukur bisa menangis, se-engganya saya sadar saya sedang ngga baik-baik saja dan berusaha menolong diri saya saat itu. Selepas masa itu, saya mendapati diri saya ngga serupa dulu. I notice that I cry less, but I feel more empty. Saya pikir itu normal-normal saja, merasa kosong dan seperti kebas dengan segala hal yang bersifat emosional setelah melewati hal yang cukup menyakitkan. Lewat kawan baik saya, Wian, saya yang awam masalah begini jadi tahu kalau ngga seluruhnya kekosongan yang saya alami itu baik. Perasaan hampa selama ini hanya saya baca dan dengar dari cerita-cerita baik cerita nyata dari pengalaman orang lain atau hanya sekedar fiksi dari buku. Hal yang saya takutkan, untuk pertama kalinya, bahwa rasa kosong ini ngga ada bedanya seperti batu karang di pesisir pantai yang menunggu ombak terbesar datang menyapu keringnya karang. Ngga ada bedanya seperti saya yang dulu, menahan pelan-pelan emosi tanpa pernah berusaha untuk memahami dan mengambil langkah untuk itu.

Seminggu sebelum saya berulang tahun di bulan Oktober, saya mencoba untuk semakin menguatkan kesadaran saya bahwa terlepas dari badai yang sudah terjadi, saya berhak untuk melihat pelangi sesudahnya. Lewat bentuk kesadaran baru yang datang dalam bentuk keyakinan bahwa ngga ada kebahagiaan maupun kesedihan yang abadi, saya berusaha memberi makna pada rasa kosong ini.

I am in my own limbo, it’s up to me whether I want to take myself to the heaven or straight to the hell of my own conscience.

Saya kembali berjalan memutar, melihat ke belakang apa saja yang saya pernah suka atau masih suka tapi terlupakan untuk sejenak. Hal-hal yang sederhana seperti menulis di blog* atau sekedar menulis cerita di buku catatan saya, main violin dan pianika tiap ketemu partitur lagu yang saya suka (saya ngga bisa langsung main sambil sight-reading, jadi saya lebih sering konversikan not balok ke not huruf dulu), nonton anime, levelling game tiap weekend, dan foto-fotoin jamur yang saya temukan (to the level that I dedicated a special account just for fungi…and other plants, but mostly it’s all about fungi). Hal-hal yang sebenarnya ngga bisa dibilang hobi juga, tapi murni dulu saya lakukan karena suka (or obsessed but in a good, positive way hehe). Beberapa hal tersebut yang kemudian saya lakukan lagi sekarang karena butuh. Saya butuh untuk diingatkan bahwa saya perlu medium untuk perasaan saya. Saya butuh juga diingatkan kalau masih ada ruang bagi saya untuk menikmati hal-hal yang saya suka tanpa perlu intervensi keberadaan orang lain.

screenshot_20181104-215836889505606.jpg

13 years have passed… and Lilium is *still* able to tease the tear ducts. Partitur ini temen saya, Akbar, yang arrange untuk versi paduan suara

p_20181104_2157501085364163.jpg

Due to my poor sight-reading skill, I made this conversion of those proper musical notes into this ‘alphabetical’ one to ease myself with the fingering… Ini bagian sopranonya, nada A mayor, moderato, 4/4

Kembali menulis, mengambil violin saya, nonton anime**, membuka akun game FFBE yang sudah lama tidak saya mainkan (akhirnya selesai juga saya level-up karakter ‘mba’ Lightning sampai bintang 6 tanpa buang-buang uang beli Minituar), membawa kamera saya ke kebun belakang untuk mencari jamur yang mungkin saja tumbuh di serasah atau di atas batang kayu yang mati, bahkan sekarang saya punya kucing***… hal-hal tersebut pelan-pelan membuat saya kembali menikmati hidup. Setidaknya, untuk sekarang, saya senang karena episode terakhir season 2 Castlevania datang minggu kemarin di saat saya mulai kehabisan stok anime yang bisa ditonton ulang…dan amazed juga (pakai banget) season 3 langsung disetujui untuk rilis sebanyak 10 episode. Memang, mantap betul mas Aditya Shankar dan om Warren Ellis ini.

screenshot_20181022-1514011995854374.jpg

Dapat karakter ini lewat quest, tanpa ‘habisin’ summon card aja saya sudah senang… apalagi sudah berhasil level-up 6* begini tanpa buang-buang uang beli Minituar… my well-spent weekend…

screenshot_20181102-1355131793920370.jpg

Marilah bersyukur isi season 3 nanti dua episode lebih banyak ketimbang season 2 yang hanya 8 episode *cries in Wallachian*

Jujur, bisa merasa senang pun kaya begini pun sudah syukur, ya sadar sih saya… this excitement was never the same like it was used to be, but still, I am grateful for a chance of feeling excited on things I know I loved back then.

Setidaknya, saya tahu bahwa kini ada medium bagi saya untuk membahagiakan diri tanpa perlu intervensi individu lain, untuk melepaskan kesedihan kalau ia datang kembali tanpa perlu melihat kesedihan itu memakan diri saya.

 

p_20181103_124506_1366761433.jpg

Ganoderma sp. Musim hujan datang lagi, jadi saya bakal sering ketemu Ganoderma (dan mungkin Calocera yang oranye, kalau beruntung) berhubung di kebun belakang ada tiga bonggol, bekas tebangan pohon rambutan.


For me, these mediums which I deem as my own catharsis are not much different like a purgatory
for my state of mind.

To my own limbo, adieu.

Fortis in arduis, semper et in aeternum.
Ameen.

 


*Totalnya, dua blog (satu blog ini, satunya lagi blog itu) dan satu tumblr (yang ngga akan bisa dibuka sekarang tanpa VPN). Tumblr saya sudah ‘usang’ sih, cuma sampai sekarang masih saya pakai karena… dimana lagi saya bisa terkoneksi dengan sesama fellow Tekken, Final Fantasy, Castlevania, Hetalia (long live Himaruya-sensei) dan Detroit: Become Human (ngga tahu bakal bertahan lama apa ngga, I’m in that fandom only for that morally-ambiguous Elijah Kamski and his motive of building android tho) kalau tidak di Tumblr (dan Amino hehe).

**Dulu saya punya satu komik Master Keaton, dikasih om saya. Out of curiosity, saya penasaran… ada ngga ya anime-nya? Dan, setelah cari-cari di Youtube, saya ketemu juga anime-nya. Ngga susah sih nyarinya. Cuma, kaget aja saya…ternyata ada juga animenya. Soalnya, Master Keaton ini kurang populer di lingkup pertemanan saya waktu masih SD. Beda pamor dengan that notoriously famous Detektif Conan atau si cult-classic Detektif Kindaichi itu. Pokoknya, jaman saya masih seragam putih-merah, komik ini dibilang ngga payu (re: laku) sama teman saya. “Kurang misterinya tau,” gitu. Sejujurnya, kalau dipikir-pikir lagi, kitanya aja yang masih bocah dan topik-topik berat macam konflik antara Inggris-Irlandia Utara (ada dibahas di satu chapter yang judulnya “Triwarna Palsu”) itu kurang populer di kalangan kami yang masihlah SD…tapi seengganya saya  saat itu jadi tahu apa itu SAS dan IRA (ya jaman saya bocah, mana boleh saya main internet). Btw, ngeri juga ya konfliknya.

*** Ngga tau sih ini bisa dibilang technically pelihara atau ngga, karena saya simply cuma ‘menampung’ kucing yang sering tidur siang di teras depan rumah. Satu kucing ini beda banget dengan kucing-kucing lain yang sering mampir. Kalem banget, kalau bisa saya umpamain ya. Dari awalnya cuma diam-diam masuk rumah, sekarang ngga ada ‘segan-segannya’ tuh duduk di depan pintu kamar saya. Mungkin ini efek saya sering ‘sapa’ (dan sogok dengan Whiskas) tiap si kucing mampir di teras.


On a serious (additional) note: I will finish writing about IGP post that I talked in here. I recently got email from SC about the summary of their program, so I guess that’ll add more informations that hadn’t been covered in the session I attended. Anyway, I hate half-hearted effort when I want to write something informational, so wait for me… I guess.

Iklan

Here for Good

Untuk siapapun yang menemukan tulisan ini,
yang tengah berjuang melewati badai,
yang tengah mempertanyakan kembali tujuan hidup

Awalnya, saya mau sharing tentang presentasi International Graduate Program dari Standard Chartered Bank yang kemarin, 29 Oktober, saya datangi dari jam 9.00 sampai jam 12.30 di Student Center FEB. Sayang rasanya, mengingat peserta yang datang tidak seperti ekspektasi saya yang bakal membludak.

p_20181030_142921_1377757537.jpg

Tahun ini International Graduate Program (IGP) di Shanghai untuk training induction selama sebulan

Padahal, seperti dugaan saya (yang tentu sudah lewat proses baca-baca programnya dan bandingin sama pihak kompetitor… halo D*S dan HS*C), materinya menarik dan… jujur beruntung bisa diskusi langsung dengan Pak Yoyok, Country Head of Human Reseources-nya Standard Chartered Bank. Ngobrol dengan beliau vibe-nya hampir sama dengan dulu jaman saya masih di Divisi Kajian CEOS for BUMN empat tahun yang lalu: “gua ga peduli lu siapa, as long as you want to learn then go for it 100%,”.

Terima kasih Pak ilmunya. Tulisan selanjutnya, saya bakal coba bahas IGP dan materi kemarin siapa tahu bisa bantu yang lagi cari infonya

Menarik. Lebih menarik lagi saat saya menemukan bahwa saya belajar lebih banyak dari hanya sekedar ‘membuktikan’ apa yang saya ketahui tentang SC (Standard Chartered) sebagai salah satu bank tua di Indonesia dan IGP-nya yang sudah dipastikan bahwa lulusannya ditempatkan pada posisi tetap di SC.

Belajar apa memangnya?

Mari, saya tarik ke belakang… tepatnya 3 bulan yang lalu. 29 Juli.
Masa-masa saya tengah stres mengejar kewajiban pasca lulus, target publikasi dan ikutan konferensi: selesain naskah ringkas tugas akhir dan nulis paper hasil penelitian untuk masuk jurnal. Stresnya bukan karena nulisnya, tapi lebih ke kejadian yang terjadi di saat yang bersamaan ketika saya mengejar target publikasi. Dari 19 Juli hingga 28 Juli, hal yang paling saya ingat: ngetik paper –> advisorin iGEM –> part time. Lumayan… penghasilan sampingan bisa nambah beli beberapa lot ANTM dan bayar keperluan pasca lulus (hmm… salah satunya bayar conference fee). Ya, intinya sejauh itu rasanya semua lancar-lancar saja.

However, life gave me lemons…and it was not only sour. It was and is too sour that it turns to be bitter that makes me numb…until this day.

Ada suatu kejadian di 29 Juli yang membuat saya berpikir ulang dan semua hanya berujung dengan satu kata: Kenapa?

Semua manusia memang berhak membuat keputusan untuk dirinya dan kebahagiaan dirinya. Cuma yang otak saya pertanyakan hingga detik ini adalah kebahagiaan macam apa yang didapat dari proses yang melibatkan keperihan orang lain?

Kembali ke masa ini, 3 bulan setelahnya. 29 Oktober.
Pak Yoyok bilang bahwa pada suatu cycle rekrutmen, beliau mendapati ada salah satu karyawan baru yang kemudian mengajukan resign (dalam waktu yang cukup cepat). Alasannya, SC ‘hanya’ sekedar tempat transit baginya sebelum akhirnya dia diterima di perusahaan multinasional incarannya. Pertanyaan Pak Yoyok (yang juga dijawab oleh beliau sendiri hahaha):

Apakah karyawan ini salah? Tidak. Dia berhak untuk menentukan mau kerja dimana, hanya dalam perjalanan (karir) si karyawan baru ini dia melupakan kenyataan bahwa ada orang-orang yang berjuang keras untuk posisi yang dia inginkan di SC ini, tapi si karyawan ini yang terpilih, dipercayakan di posisinya sekarang…. hanya untuk kemudian dibuang.

Respon Pak Yoyok ke karyawan itu, walau humoris (kedengarannya), cukup bikin termenung: “Kamu sekarang, shalat taubat, deh,”.

Pak Yoyok bilang ada alasan kenapa Here for Good itu jadi mottonya SC.
“Ya, sederhananya, kita mau bisnis kita berkembang, ngga cuma berkembang aja, tapi give back to society, jadi cause untuk kesejahteraan orang lain,”

Literally, here for good.
Saya belajar kalau kita bisa jadi sebab untuk kebahagiaan hidup orang lain itu sejatinya lebih besar maknanya ketimbang hidup itu sendiri.

And, it rang my bell so hard.

Selepas masalah pada 29 Juli itu, hal-hal yang Wian pernah ceritakan ke saya: “To get yourself up is a hardwork” itu terjadi selama seminggu penuh. Seminggu. Tujuh hari. Tujuh hari penuh yang ngga ada bedanya dengan ‘perang’ melawan diri sendiri untuk tetap menjalani keseharian seperti biasanya: bangun pagi – ngetik – cek progress update iGEM – nyari-nyari info either sekolah atau lowongan kerja baru – baca komik/buku/main game yang belum sempat dilakuin selama masa TA. Ya yang gitu-gitu aja ngga bisa saya lakuin. Saya juga ngga ngerti kenapa saya jatuhnya begini banget. Otak dan hati saya ngga sinkron rasanya. Kasarnya, secara logis otak saya seakan maksa saya untuk selesaikan paper sebelum tanggal 22 Agustus. Kebalikannya, hati saya ngga bisa nahan beban lebih lama lagi.

Akhirnya, jalan tengah yang saya ambil adalah: Saya ngetik paper sambil nangis. Ya mau gimana, memang kalau saya lepasin beban hati saya dengan nangis terus, paper saya bakal selesai gitu? Atau, ada jaminan gitu setelah saya nangis terus ke depannya saya ngga akan sedih lagi? Ya, ngga lah.

Saya hanya notice bahwa ada waktu-waktu tertentu yang saya amati sebagai suatu pola. Pagi jam 7-9 dan dini hari jam 1-4 adalah waktu dimana saya rentan untuk menahan diri tidak menangis, susah untuk berpikir fokus, apalagi hanya untuk sekedar istirahat. Mau ngga mau, waktu siang saya gunakan untuk tidur dan sisanya saya gunakan semuanya untuk ngerjain paper dan berusaha cari distraksi apapun. Distraksi saya yang salah satunya berbentuk beberapa lagu yang saya ulang terus-menerus supaya setidaknya saya masih bisa berpikir jernih, memberi arti, dan memahami perasaan saya tanpa dibutakan oleh kesedihan saya. Kalau bisa dirangkum, saya ngga ngerasa jadi manusia normal selama seminggu itu. Robot. Makan dengan layak juga hampir ngga kepikiran. Saya cuma keluar kamar untuk makan malam, itu pun supaya orang tua saya ngga khawatir.

Ada suatu waktu saya harus berpura-pura baik-baik saja karena pada sekitar awal Agustus itu Pembimbing Akademik saya sampai telfon (karena WhatsApp saya matikan) untuk nanya kondisi saya, apakah saya baik-baik saja, dan gimana persiapan buat September nanti. Jujur, saya bisa dibilang bohong saat saya bilang baik-baik saja dan hanya kecapekan. Jawaban diplomatis, pikir saya. Ya, kecapekannya memang benar sih. Saya capek secara mental. Dan, saya sadar selesai saya tutup telfon itu, saya ngerasa “What the hell is wrong with you?” .

I was not okay. Why the hell did I lie for something I was not?

Call it survival instinct, saya seketika sadar saat itu juga kalau saya butuh bantuan. Di satu sisi, saat itu saya pikir saya berusaha menolong diri saya dengan fully disconnecting. LINE, WhatsApp, dan segala medsos (sebenarnya cuma Instagram dan Twitter aja sih saat itu) semua saya hapus. Saya cuma ngga bisa melihat ke belakang lewat history chat dan apapun itu, ya itu cuma bikin saya ‘ngga sembuh’. Saya sempat ‘dimarahi’ oleh Wian, “Kenapa harus teman-teman lo yang susah karena kesalahan orang lain sih ul?” ya kurang lebih intinya gitu. Tapi mau gimana, mau dihapus kontaknya, korteks prefrontal di otak saya terlalu kuat buat saya lawan. Ya ketimbang saya maksa buat lupa, buat apa juga. Terima saja dan cari cara lain. Cara lain yang ngga cuma menolong saya tetapi juga memberi waktu bagi saya untuk sendiri tanpa selalu ditakuti oleh keinginan kuat untuk melihat history chat selama lima tahun ini, menghubungi berulang kali, dan segala macam hal yang menurut saya justru toksik untuk diri saya sendiri.

Fully disconnecting myself was the answer I took.
Setidaknya dengan cara itu, saya menenangkan pikiran saya. Memang siapa lagi yang bisa bertanggung jawab untuk keselamatan saya selain diri saya sendiri?

Saya mikir saat itu bahwa saya butuh untuk bisa stabil secara cepat karena sebentar lagi bulan Agustus, bakal ada rangkaian acara kelulusan yang mesti saya ikuti di akhir Agustus, dan salah satu ‘hari besar’ bagi saya akan terjadi sebulan lagi. Sabtu, 1 September 2018… di Balairung. Ngga lucu kalau saya ngga bisa bangkit untuk datang ke hari utama pengukuhan kelulusan di kampus yang sudah jadi ‘medan tempur’ sekaligus ‘rumah’ saya lima tahun ini. Belum lagi, saya masih punya konferensi di bulan November untuk publikasi dan tim iGEM yang masih diurus dengan segala dramanya which makes sense since every team has its own drama, mine too. Intinya, keputusan untuk sembuh, bangkit, dan stabil secara cepat itu satu-satunya yang harus saya lakuin.

Saat itu saya takut untuk cerita, sekedar curhat pun susah. Tendensi saya yang dari dulu apa-apa disimpan sendiri lebih bermain kuat ketimbang kebutuhan mental saya sendiri. Long story short, saya ngga mau repotin orang-orang terdekat saya karena dalam pikiran saya tiap orang punya bebannya sendiri, ngapain saya nambahin beban orang dengan ‘beban’ saya lewat curhat.

Saya menambah makna dari rutinitas ‘ngobrol’ dengan Tuhan. I put myself to talk to Him as if I’m talking to a close friend when I just feel that I couldn’t force myself to do so in reality. Do’a saya, simply minta Tuhan untuk kuatkan saya, selalu. Separah-parahnya, saya paham setiap ujian yang diberikan itu sesuai dengan porsi kemampuan kita manusia ini. Jadi, seharusnya, saya bisa lewatin ‘badai’ ini dengan selamat kan?

Selain ‘ngobrol’, saya memutuskan ikut beberapa sesi self-help. Ngobrol dengan orang-orang yang mengalami hal serupa terkait dealing with loss and grief in real life. Saya punya perspektif baru tentang menghadapi kehilangan dan ketakutan yang datang sesudahnya. Lewat hal ini juga, saya ‘membuka’ luka lama saya yang lain, yang belum sempat sembuh, yang coba saya simpan sendiri dua tahun lalu. Luka yang berbentuk kepergian teman baik saya akibat serangan jantung mendadak. Teman yang sama-sama punya minat di dunia molekuler, yang semangat banget kalau sudah ngomongin apapun yang berbau medis, yang dukung saya waktu saya cerita tentang synthetic biology dan gimana visi saya ke depannya di bidang itu. Ya, intinya, mengutip bahasa teman-teman di lingkungan organisasi kampus, “Teman seperambisan yang se-ide dan ngga matil (re: main tinggal),”.

Padahal, di tahun 2016 itu, saya ada di tengah salah satu kebahagiaan saya: menjalani mimpi saya yang berkaitan dengan synthetic biology. Saya terlibat suatu proyek lomba penelitian, iGEM, yang meminta komitmen selama setahun karena dari perancangan, pengerjaan, hingga evaluasinya ngga makan waktu sebentar. Suatu waktu di tengah pelaksaan proyek ini, saya dan dua teman lainnya dipercaya untuk nantinya pergi ke Boston, mewakili tim. Saat saya tahu dan bahagia kalau lokasi konferensinya cukup dekat dengan lokasi sekolah impian saya dan teman saya, saya harus bisa menerima berita kalau teman saya ‘pergi’ secara mendadak… tanpa kabar baik ini sempat datang ke telinganya. However, my mind forced me to focus on the project. Saya cuma bisa bilang, “Oke. Udah stop. Lo bisa nangis ntar beres lomba ini kelar,”.

But, then, what I was trying after the project is much worse. Saya nyoba untuk repress kejadian dua tahun lalu. Setiap ingat hal itu, saya coba mencari distraksi. I couldn’t afford time to deal with grief. Saya ngga boleh sedih, apalagi tahun depannya, 2017, saya harus fokus untuk penelitian kerja praktik dan tugas akhir saya. Mungkin kalau ada OSCAR, bisa kali ya saya menang aktris utama terbaik. Berpura-pura kuat padahal sebetulnya hanya menekan ketakutan dan kesedihan saya.

Untuk pertama kalinya di 2018, dua tahun sejak teman saya ‘pergi’, saya diminta menghadapi ketakutan saya. Saya diyakinkan kalau saya bisa ‘bertahan’ dengan berpura-pura kuat, pastinya saya bisa berusaha benar-benar kuat. Saya yang saat itu ngerasa ngga bisa lihat apapun di depan saya lagi, saya yang saat itu ngerasa hilang semangat dan motivasi bahkan untuk hal yang saya cita-citakan, saya hanya diam dan nangis saat sudah berada di depan peristirahatan terakhirnya. Ngga bisa ngomong apa-apa. Saya ngerasa bodoh banget saat itu kok bisa dengan gampangnya mikir ngga bisa lihat apapun di depan saya lagi, ngga bisa semangat lagi, ngga ada motivasi lagi. Di depan saya, in front of my freaking eyes, teman saya tertidur selamanya. Saya yang masih hidup ini, yang hanya kesandung masalah ini, kok bisa-bisanya selemah itu.

Masalahnya, ini bukan hanya kesandung. Saya jatuh sesakit-sakitnya seseorang terjatuh. Saya bukannya ngga bisa melawan diri saya sendiri, tapi untuk sekedar hal paling dasar untuk hidup manusia normal seperti makan saja ngga ada terlintas di pikiran saya. Mental saya yang struggling. Sayangnya, itu sampai ngaruh ke fisik saya. My wake-up call was when I found out I was 39 kg. Kebangun dengan kepala pening dan badan yang rasanya seperti kapas itu mengerikan sejujurnya. I couldn’t feel myself. Saya memang ngga tinggi-tinggi banget, 152 cm (ukuran tinggi badan saya lima tahun yang lalu, ngga tahu deh sekarang). Dengan tinggi segitu, ngga pernah seumur-seumur saya di bawah 42 kg. 41 kg saja sudah bikin saya cukup takut. Dari seluruh hal-hal yang saya lalui selepas 29 Juli itu, hal yang saya ngga ngerti: Saya bisa repress rasa sakit saya saat teman saya ‘pergi’, tapi kenapa untuk kehilangan yang ini saya ngga bisa lakukan hal yang sama?

Saya dijelaskan kalau hal yang saya lalui itu adalah konsekuensi dari stres yang bertumpuk-tumpuk. Mental burnout. Apa-apa selalu disimpan sendiri. Intinya, lewat penjelasan yang bisa saya terima dengan tenang, saya jadi tahu kalau hal yang saya alami pada 29 Juli itu hal yang traumatis untuk saya, ‘menghancurkan’ pertahanan diri saya, dan membuka ‘pintu’ dari ruang dimana saya selalu menyimpan semuanya sendiri. Well… hal-hal yang bersifat traumatis itu relatif untuk setiap orang. Bisa jadi hal yang traumatis buat saya, tapi itu ngga traumatis untuk orang lain. Mungkin ada benarnya, hidup saya sebelumnya yang saya rasa bahagia-bahagia aja: saya punya keluarga yang suportif, orang yang saya sangat sayang, dan keseharian saya merealisasikan cita-cita dan mimpi saya. Semua itu bahagia buat saya. Jadi, saat ada satu hal signifikan yang datang dari kebahagiaan dan hal itu hancur/hilang, ya normal kalau saya begini.

Saya kemudian dianalogikan sebagai suatu bangunan, nah pilar yang menyangga atap bangunan itu hancur. Jadi, tentu saja, bentuk bangunan di atas fondasi itu bakal hancur. Bentuk bangunan itu kehidupan saya.

“Tapi, ingat, itu hanya pilarnya yang hancur, bukan fondasinya,”

Saya masukkan analogi itu dalam otak dan hati saya masih ‘berantem’. Apa fondasi saya ya? Maksudnya, saya bisa ngerti penjelasan itu. Kalau fondasi saya hancur, saya ngga akan mungkin ada di sini sekarang.
Apa iya mimpi dan cita-cita saya itu fondasi saya? Toh, saya sendiri sempat bergulat dengan kenyataan bahwa saya pernah merasakan saya ngga bisa melihat apapun di depan hidup saya, saya bahkan hilang semangat dan motivasi untuk mimpi dan cita-cita saya sendiri.

Perjalanan mencari jawaban apa fondasi itu kemudian terjawab sepulangnya dari presentasi Standard Chartered itu, menuju ke Roti Bakar Eddy di Margonda untuk ketemu Putra, junior saya di Bio sekaligus rekan seperjuangan di Synbio dan iGEM. Simply, awalnya buat ngomongin hal regenerasi kepengurusan UI Synbio periode ini dan evaluasi tim iGEM tahun ini. Memang ya, hidup itu lucu. Jawaban hidup itu datang di saat yang ngga kita duga.

Saya sebenarnya sudah dalam perjalanan untuk ‘berdamai’ dengan diri sendiri. Ngga maksa lagi nyari tahu apa fondasi saya. Saya cuma tahu kalau saat ini saya mencoba semaksimalnya untuk bertahan hidup. Saya lakuin kewajiban apa yang harus saya lakuin. Saya kejar kembali mimpi dan cita-cita saya. Jujur saja, dalam tiga bulan yang terlalu ‘radikal’ ini, saya memandang mimpi dan cita-cita saya dengan kacamata yang baru.

Ya, seengganya, saya punya pikiran begini: hidup saya sebagai manusia ada masanya. Dalam masa yang bisa dibilang ngga lama ini, saya ngga mau jadi penyebab bagi kesedihan orang lain. Saya ‘berdamai’ dengan keyakinan bahwa ngga ada kebahagiaan maupun kesedihan yang abadi.

Kalau di masa hidup ini, saya bisa jadi sebab bagi kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain walaupun salah satunya itu dengan cara merelakan yang bersangkutan pergi terlepas dari apa yang sudah kami percayai dan jalani selama bertahun-tahun, terlepas dari keputusan apa yang digunakannya untuk pergi… ya kenapa ngga.

We have our way to love someone. And, this is my way to love someone.
As love is an energy for me, I just convert it to another form of love.

For life is not forever, I’m trying to spend the rest of my time here for good.

29 Oktober 2018, sore, Roti Bakar Eddy, Margonda.

“Lo tau ngga sih Kak, iman lo yang menguatkan lo,”
(Putra Mahanaim Tampubolon, dengan roti bakar keju coklat yang tinggal beberapa potong dan es teh yang tinggal es batunya saja)


p_20180911_132128361891992.jpg

Honesty and loyalty will never betray you

October 10th

To someone, whoever read this or stumble into this, who struggle to live and to find meaning to be alive.

To someone, no matter how long or short your days to live, who will always try to live each day gratefully.

This day, October 10th, is the celebrated as World Mental Health Day.

To write this today is not something coincidentally. There may be a greater meaning than to only be alive and celebrate the day we were born. I believe that we don’t blow the candles and eat the cake for nothing, right?

To struggle through the storm and remind ourselves that we are more than who we are as a person with our own personal battles are things that make our life beautiful.

No matter how many days left, I will live each day gratefully. And I hope you, who read this, too.

Thank You for blessing me with a beautiful life.

#Week1: A Fine, Sudden Me-Time on Sunday

I was that person who used to be so strict to myself that I somehow lost the essence of truly having fun by myself; having my own time to do anything that would make me happy. My definition of happiness has been going to different side.

I recalled that I was so busy last year and had nothing to do for myself until the news of my teacher passed away came. It just forced me to remember that I also lost my friend in previous year. What kind of life do I wish to live?

I argued a lot to myself. I questioned God. There were some days that I felt like a gloomy one. It was hard to maintain focus, thus led me to sleep deprivation. I tend to tire myself during the day, so I could sleep easily. I ate a lot only to get sleepy. Meanwhile those things were carried on my shoulder, I tried to live the day as normal as it would be. It’s as simply as walking, you couldn’t just stop walking just because you only got bruises on your feet, no? So, I thought I would be fine. However, a mere illusion of “I’m fine” is as worse as placebo effect. You never know when you’re going to break.

The moment of loss was the moment I started to talk more to myself. I tried to find peace which somehow lost for the last three years. I tried to appreciate whatever things that make me happy. A small coffee shop where my favorite seat facing towards the large window near the small garden, a certain spot in my campus library where I could dwell reading anything in peace, blooming four-o-clock every morning in my front garden, sprouting little fungi around my backyard are stuffs that I start to be thankful for their existence.

Thank you.

What I found today 🙂

Fig. 1. My new track that I accidentally tried this morning. It felt nice walking here after the morning run. Just like RPG game, I unlocked new area.

Fig. 2. As I predicted, I found some new Ganoderma (I guess) here. Rain has been pretty intense for weeks, meanwhile it’s been sunny for couple days. I couldn’t wait to see them even bigger.

Fig.3. A ‘fallen’ Ganoderma I picked. It’s so small, it looks like a shell somehow.

What song’s playing while I finish this post: Christmas Time is Here – Vocal by Vince Guaraldi Trio 🙂